Jakarta, Terarah.id — Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menegaskan bahwa dana on call dalam APBN 2025 sebesar Rp4 triliun dapat segera dialokasikan untuk menangani bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Banjir tersebut mengakibatkan kerusakan masif dan menelan banyak korban jiwa.
Menurut Said Abdullah, dana tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan tanggap darurat hingga proses pemulihan pascabencana.
Ia menekankan bahwa kebutuhan mendesak para penyintas harus menjadi prioritas utama pemerintah.
“Dalam jangka pendek, kebutuhan tanggap darurat masih sangat penting agar warga yang terdampak banjir dan tanah longsor tidak kelaparan,” ujar Said dalam keterangan resmi.
Said menyampaikan belasungkawa mendalam atas bencana yang memporakporandakan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai pemerintah harus mengerahkan seluruh sumber daya nasional untuk memberikan respons cepat dan terintegrasi.
“Tragedi ini sangat memilukan. Kita harus berduka secara nasional. Pemerintah harus segera bertindak untuk menangani bencana ini secara menyeluruh,” tegasnya.
Ia meminta agar penyediaan hunian sementara, suplai makanan, fasilitas MCK, selimut, dan pakaian segera dipenuhi.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut Said, perlu mendapatkan layanan trauma healing. Proses pencarian korban hilang juga harus terus dilakukan secara intensif.
Said menambahkan bahwa dana on call dapat digunakan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascatanggap darurat. Untuk kebutuhan besar, pemerintah dapat memakai skema anggaran multiyears, termasuk tahun 2026 dan seterusnya
Terkait aksi warga yang menjarah pertokoan dan gudang Bulog, Said menyebut hal itu terjadi karena kurangnya layanan tanggap darurat yang layak.
“Barangkali itu cara mereka mempertahankan hidup. Saya yakin mereka juga tidak ingin melakukan itu,” ujarnya.
BNPB per Rabu (3/12) pagi melaporkan 753 orang meninggal dunia, 650 orang hilang, 2.600 terluka, dan 576.300 warga mengungsi akibat banjir Sumatera. Jumlah korban diperkirakan masih terus bertambah, sementara ribuan rumah dan fasilitas umum rusak berat.(red)












