Syafiq Qudsi Tegaskan Harmoni Lahir dari Regulasi yang Dipahami Kolektif

Avatar

Yogyakarta, Terarah.ID— Harmony Class Region DIY yang digelar Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta pemuda lintas iman.

Program ini menjadi ruang pembelajaran untuk memperkuat literasi kerukunan, pemahaman regulasi, serta kemampuan mitigasi konflik sosial-keagamaan.

Dalam sesi pemaparan, narasumber M. Syafiq Qudsi, M.H., menegaskan bahwa pemahaman regulasi merupakan fondasi penting bagi terciptanya harmoni sosial, terutama terkait isu sensitif seperti pendirian rumah ibadah.

“Harmoni tidak hadir begitu saja. Ia tercipta ketika regulasi dipahami bersama. Ketika masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah memahami aturan dengan cara yang sama, potensi gesekan dapat dicegah sejak awal,” ujarnya.

Syafiq juga menyoroti bahwa banyak miskomunikasi di tingkat akar rumput muncul akibat minimnya sosialisasi regulasi serta perbedaan tafsir antarpihak.

“Banyak persoalan bukan karena isi PBM, tetapi karena pemahamannya tidak seragam. Sosialisasi dan dialog terbuka menjadi kunci agar aturan benar-benar menjadi pedoman bersama,” jelasnya.

Ia mengajak para peserta untuk berperan aktif membangun ekosistem kerukunan melalui literasi digital, dialog, dan aksi kolaboratif.

Ajakan ini sejalan dengan nilai-nilai edukatif yang disampaikan, termasuk pentingnya partisipasi kolektif dan pemanfaatan teknologi seperti aplikasi SI-RUKUN untuk deteksi dini potensi konflik.

Menutup sesi, Syafiq berharap agar pemahaman regulasi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang memperkuat kerukunan di tingkat lokal hingga nasional.

“Kerukunan tumbuh dari pengetahuan, dialog, dan aksi nyata. Semoga setelah sesi ini, kita semua mampu menjaga keberagaman dengan lebih bijak dan menyadari bahwa harmoni adalah kerja bersama,” tutupnya.

Harmony Class DIY diharapkan menjadi langkah awal lahirnya generasi muda yang moderat, melek regulasi, dan siap menjadi penggerak harmoni di komunitas masing-masing.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *