SUMENEP, Terarah.id — Paguyuban Bola Voli Kecamatan Batuan secara tegas menyuarakan tuntutan reformasi menyeluruh di tubuh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Sumenep.
Salah satu poin utama yang disorot adalah mekanisme pemilihan Ketua PBVSI yang dinilai selama ini tertutup dan elitis.
Sikap tersebut merupakan hasil rapat seluruh klub bola voli yang tergabung dalam Paguyuban Batuan pada 18 Desember 2025. Keputusan itu diperkuat dengan tanda tangan seluruh ketua klub sebagai bentuk kesepakatan bersama.
Dalam pernyataannya, Paguyuban Batuan mendesak panitia Musyawarah Kabupaten (Muskab) PBVSI Sumenep agar proses pemilihan ketua dilakukan secara terbuka dan melibatkan seluruh klub bola voli tanpa pengecualian.
Klub-klub voli di Kecamatan Batuan secara tegas menolak pola lama pemilihan yang hanya melibatkan klub-klub tertentu. Pola tersebut dinilai telah mengabaikan aspirasi mayoritas pembina, atlet, serta klub di tingkat akar rumput.
Perwakilan Paguyuban Bola Voli Kecamatan Batuan menegaskan bahwa tuntutan pelibatan seluruh klub bukan semata persoalan teknis, melainkan menyangkut masa depan dan legitimasi organisasi PBVSI itu sendiri.
“PBVSI tidak boleh lagi dikelola secara eksklusif. Klub adalah tulang punggung pembinaan atlet. Jika klub tidak dilibatkan, PBVSI akan kehilangan legitimasi moral dan organisatoris,” tegas salah satu perwakilan paguyuban.
Menurut mereka, selama bertahun-tahun klub-klub bola voli di Sumenep jarang, bahkan nyaris tidak pernah, dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis organisasi.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan di kalangan atlet dan pembina, sekaligus memperlebar jarak antara PBVSI dan klub.
Situasi ini juga menumbuhkan persepsi negatif terhadap tata kelola organisasi, yang dinilai tidak transparan dan tidak partisipatif.
Karena itu, Paguyuban Batuan secara kolektif menyerukan agar pemilihan Ketua PBVSI Sumenep dilakukan melalui mekanisme pemilihan langsung oleh seluruh klub, tanpa sistem perwakilan.
Mereka meyakini, hanya dengan cara tersebut PBVSI dapat membangun kembali kepercayaan publik olahraga dan melahirkan kepengurusan yang memiliki legitimasi kuat.
Lebih jauh, sikap Paguyuban Batuan ini juga dimaknai sebagai ajakan terbuka kepada seluruh klub bola voli di Sumenep untuk bersama-sama mendorong reformasi organisasi.
“Ini momentum sejarah. Jika PBVSI dan panitia berani membuka ruang partisipasi seluas-luasnya, PBVSI Sumenep bisa menjadi contoh nasional reformasi organisasi olahraga dari bawah,” ujarnya.
Paguyuban Batuan juga menuntut agar kepengurusan PBVSI ke depan mengakomodasi perwakilan seluruh paguyuban dalam struktur organisasi dan proses pengambilan keputusan, termasuk dalam penyusunan regulasi yang selama ini kerap dikeluhkan atlet dan klub.
Langkah berani klub-klub bola voli Kecamatan Batuan ini pun menjadi sorotan publik olahraga. Kini, perhatian tertuju pada respons PBVSI dan panitia Muskab: memilih membuka lembaran baru pemilihan yang demokratis atau tetap bertahan pada pola lama.(red)












