Abd Rahman dan Jalur Sunyi Wakil Rakyat dari Bawah

Avatar

Sumenep, Terarah.id — Di tengah politik lokal yang kerap ditandai oleh jejaring kekerabatan, patronase, dan modal kuasa turun-temurun, Abd Rahman justru menempuh jalur yang berlawanan.

Ia datang dari pinggiran struktur kekuasaan, menapaki politik melalui jalur kultural Nahdlatul Ulama (NU) yang sunyi, pelan, dan nyaris tanpa sorotan.

Legislator DPRD Kabupaten Sumenep dari PDI Perjuangan itu bukan berasal dari keluarga pejabat, bukan pula bagian dari dinasti desa. Ia lahir dan tumbuh sebagai petani, dan hingga kini masih setia menggarap sektor yang sama—bertani—meski status sosial-politiknya telah berubah.

“Saya bukan anak pejabat, bukan anak kepala desa,” ujarnya singkat. Kalimat itu disampaikan tanpa nada pembelaan, seolah hanya penanda posisi sosial yang sejak awal ia pahami: warga biasa di tengah komunitas Nahdliyin desa.

Di kalangan masyarakat dan rekan sejawat, Abd Rahman belakangan dijuluki “Sang Perintis bukan Pewaris”. Julukan itu merujuk pada perjalanan hidupnya yang berangkat dari nol, melalui kerja-kerja kasar dan sektor informal, jauh sebelum ia duduk di kursi legislatif.

Dalam tradisi NU, jalur seperti itu bukan sesuatu yang asing. Politik tidak selalu dimulai dari panggung, tetapi dari pengabdian panjang di mushala, madrasah, dan struktur sosial-keagamaan tingkat bawah. Abd Rahman tumbuh dari ruang-ruang semacam itu.

Ia lahir di Pamekasan pada 8 April 1975, lalu hijrah ke Sumenep sejak kecil bersama orang tuanya, Sa’rawi dan Jiya. Keluarganya menetap di Desa Larangan Perreng, Kecamatan Pragaan, sebuah desa agraris dengan kultur NU yang kuat.

Dari lingkungan keluarga petani itulah Abd Rahman mengenal disiplin kerja, kesederhanaan hidup, serta kepatuhan pada nilai-nilai sosial-keagamaan desa. Ia tumbuh sebagai bagian dari komunitas, bukan sebagai individu yang berdiri di atasnya.

Jalan ekonominya tidak lurus. Ia pernah menjadi buruh, berdagang kecil-kecilan, hingga bekerja sebagai tenaga kredit keliling di Jember selama enam tahun. Fase itu ia lalui tanpa kepastian, sekadar bertahan hidup.

Selepas krisis moneter awal 2000-an, ia pulang ke Madura. Ia berdagang garam dan sapu lidi, mengirimkannya ke Malang. Dunia konstruksi baru ia masuki bertahun-tahun kemudian, hingga pada 2015 dipercaya menjadi Direktur CV Elang Mas.

Meski demikian, peningkatan status ekonomi tidak serta-merta mengubah orientasi hidupnya. Ia tetap berada di lingkar sosial NU desa, aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan, tanpa ambisi menonjol di ruang publik.

Keputusan masuk politik datang relatif terlambat. Ia maju sebagai calon anggota DPRD pada Pemilu 2024, bukan karena perhitungan karier, melainkan dorongan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *