Opini  

Ilusi Kemakmuran di Tengah Krisis Agraria

Avatar

Penulis oleh: Ahmad Wasil

Tulisan ini sengaja saya buat samar, tidak mengungkap data, tidak menyajikan data detail. Tetapi rasanya, cukup menggambarkan situasi dan ruang dimana hanya benar-benar petani yang dapat merasakan.

Sebab, kemakmuran petani tidak lahir dari angka produksi nasional meningkat. Apalagi dari pidato optimistis yang menyebut petani bisa jalan-jalan keluar negeri.

Ukuran kesejahteraan petani jauh lebih sederhana: apakah hasil panennya mampu memenuhi kebutuhan keluarga, apakah lahannya tetap menjadi miliknya, dan apakah ia memiliki harapan untuk terus bertani di masa depan.

Sayangnya, arah pembangunan pertanian hari ini masih terlalu sering terjebak pada keberhasilan yang bersifat administratif.

Luas tanam, target produksi, hingga proyek pembukaan lahan baru menjadi indikator utama keberhasilan, sementara kehidupan petani sebagai pelaku utama pertanian justru sering luput dari perhatian.

Pengalaman berbagai program pangan menunjukkan bahwa pendekatan yang terlalu berorientasi pada proyek berskala besar tidak selalu menghasilkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Produktivitas lahan baru kerap tidak mampu menandingi sawah-sawah produktif yang selama puluhan tahun dikelola petani dengan pengetahuan lokal mereka.

Ketika kebijakan lebih mengutamakan ekspansi lahan daripada menjaga lahan subur yang sudah ada, negara justru berisiko kehilangan fondasi pertanian yang sesungguhnya.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi kawasan permukiman, industri, maupun infrastruktur.

Fenomena ini terus terjadi, sementara perlindungan terhadap lahan pertanian produktif masih belum berjalan secara optimal. Jika kondisi tersebut dibiarkan, ancaman terhadap ketahanan pangan akan semakin nyata.

Di Kabupaten Sumenep, tantangan tersebut mulai terlihat. Sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Timur, Sumenep memiliki potensi pertanian yang besar.

Namun sebagian besar sawah masih mengandalkan curah hujan, sehingga sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Di sisi lain, tekanan pembangunan kawasan permukiman perlahan mulai mengurangi ruang-ruang agraris yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Karena itu, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar target produksi.

Yang lebih penting adalah memastikan petani memperoleh harga jual yang layak, akses terhadap sarana produksi yang terjangkau, perlindungan atas lahannya, serta kepastian pasar bagi hasil panennya. Ketahanan pangan sejatinya tidak dibangun dari luasnya proyek, melainkan dari kuatnya posisi petani sebagai pelaku utama.

Sudah saatnya paradigma pembangunan pangan bergeser. Negara harus lebih berpihak kepada pertanian keluarga, memperkuat regulasi perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), mendorong penggunaan benih lokal yang adaptif, memperbaiki irigasi, serta memutus ketergantungan petani terhadap rantai distribusi yang tidak adil.

Pada akhirnya, kemakmuran petani bukanlah ilusi yang dibangun melalui narasi, tetapi kenyataan yang tercermin dari kehidupan mereka sehari-hari.

Selama petani masih kesulitan memperoleh keuntungan yang layak dari hasil kerja kerasnya, selama lahan produktif terus menyusut, dan selama kebijakan lebih mengutamakan angka daripada manusia, maka swasembada pangan hanya akan menjadi capaian statistik tanpa menghadirkan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Ketahanan pangan yang kuat hanya dapat diwujudkan ketika negara tidak sekadar membangun pertanian, tetapi juga memuliakan petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *