Sebagai warga asli Kacongan, setiap proyek pembangunan jalan selalu dinanti dengan penuh harap. Jalan yang mulus bukan sekadar simbol modernisasi, tetapi juga menjadi tulang punggung mobilitas dan kehidupan ekonomi desa.
Harapan warga sederhana: jalan yang memudahkan anak-anak pergi ke sekolah, memperlancar akses ke pasar, mempercepat perjalanan ke bandara, dan membuka peluang usaha baru.
Infrastruktur jalan yang baik juga diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian dan produk lokal sehingga roda ekonomi desa dapat berputar lebih hidup.
Namun, kenyataan di lapangan sering kali tidak sesuai harapan. Jalan yang baru dibangun di beberapa titik desa kami cepat rusak, terutama setelah turun hujan.
Harapan akan manfaat nyata dari pembangunan jalan menjadi terbatas, dan warga justru menghadapi kenyataan pahit: jalan yang seharusnya mempermudah kehidupan malah menambah kesulitan.
Beberapa fakta menunjukkan persoalan serius dalam pembangunan infrastruktur di Kacongan. Jalan di sekitar RT 01 dan RT 03, yang baru dibangun tahun lalu, sempat terlihat mulus dan rapi. Sayangnya, dalam hitungan hari sudah muncul retakan dan genangan air di sejumlah titik.
Akibatnya, anak-anak harus melewati jalan berlubang untuk ke sekolah, warga yang hendak berjualan atau membawa hasil pertanian ke pasar menghadapi hambatan besar, dan perjalanan ke bandara maupun pusat pelayanan publik menjadi lambat dan tidak nyaman. Kendaraan cepat rusak, biaya perawatan meningkat, dan risiko kecelakaan bertambah saat musim hujan.
Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan Teori Ekonomi Politik Pembangunan Modernisasi, yang menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari upaya menuju kemajuan sosial-ekonomi.
Namun, ketika pembangunan hanya menonjolkan aspek fisik tanpa memperhatikan kualitas, keberlanjutan, dan kebutuhan masyarakat, modernisasi tersebut hanya menjadi simbol, bukan perubahan nyata.
Kerusakan jalan di Kacongan berdampak langsung pada mobilitas, ekonomi, dan psikologi warga. Mereka merasa terpinggirkan karena pembangunan tidak menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas pembangunan jalan harus dimulai dari perencanaan yang matang, penggunaan material yang berkualitas, pengawasan ketat, serta partisipasi aktif warga dalam memantau setiap tahap pekerjaan. Pemeliharaan rutin juga penting agar jalan memiliki umur panjang dan manfaatnya benar-benar dirasakan.
Pembangunan jalan di Kacongan seharusnya tidak berhenti pada wujud fisik, tetapi menjadi sarana nyata menuju kesejahteraan masyarakat.
Modernisasi harus hadir dalam bentuk kemudahan akses, peningkatan ekonomi, dan kenyamanan hidup warga—bukan sekadar proyek yang cepat rusak dan meninggalkan kekecewaan.
Nama: Nabila Dwi Saraswati
Mahasiswa FISIP Universitas Wiraraja Madura






